VIDEO MENARIK



ASSALAMUALAIKUM DAN SALAM SEJAHTERA KEPADA SEMUA PENGUNJUNG SEKALIAN, PIHAK ADMIN SEDANG MENJALANKAN KERJA-KERJA MENGEMASKINI BLOG. HARAP MAAF ATAS SEBARANG KESULITAN. TERIMA KASIH.


ASSALAMUALAIKUM DAN SALAM SEJAHTERA KEPADA SEMUA PENGUNJUNG SEKALIAN, PIHAK ADMIN SEDANG MENJALANKAN KERJA-KERJA MENGEMASKINI BLOG. HARAP MAAF ATAS SEBARANG KESULITAN. TERIMA KASIH.

1001 Persoalan Syaaban



"Jika tersisa separuh bulan Sya'ban, janganlah berpuasa." (HR. at-Tirmidzi no. 738 dan Abu Daud no. 2337)

Dalam lafaz

"Jika tersisa separuh bulan Sya'ban, maka tidak ada puasa sampai datang Ramadhan." (HR. Ibnu Majah no. 1651)

Dalam lafaz yang lain lagi,


"Jika tersisa separuh bulan Sya'ban, maka tahanlah diri daripada berpuasa hingga datang bulan Ramadhan." (HR. Ahmad)

Sebenarnya para ulama berselisih pendapat dalam menilai hadits-hadits di atas dan hukum mengamalkannya.




Di antara ulama yang menshahihkan hadits di atas adalah At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ath Thahawiy, dan Ibnu `Abdil Barr. Di antara ulama kontemporari yang menshahihkannya adalah Syaikh Al Albani rahimahullah.

Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahawa hadits tersebut adalah hadits yang mungkar dan hadits mungkar adalah di antara hadits yang lemah. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah `Abdurrahman bin Mahdiy, Imam Ahmad, Abu Zur'ah Ar Rozi, dan Al Atsrom. Alasan mereka adalah kerana hadits di atas bertentangan dengan hadits,



"Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa." (HR. Muslim no. 1082). Jika difahami daripada hadits ini, bererti boleh mendahulukan sebelum ramadhan dengan berpuasa sebelum dua atau satu hari memasuki Ramadhan..

Al Atsrom mengatakan, "Hadits larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya'ban bertentangan dengan hadits lainnya. Ini kerana Nabi shallallahu `alaihi wa sallam sendiri berpuasa di bulan Sya'ban seluruhnya (kebanyakannya) dan beliau lanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Dan hadits di atas juga bertentangan dengan hadits yang melarang berpuasa dua hari sebelum Ramadhan. Kesimpulannya, hadits tersebut adalah hadits yang syadz, bertentangan dengan hadits yang lebih kuat."


At Thahawiy sendiri mengatakan bahawa hadits larangan berpuasa setelah separuh Sya'ban adalah hadits yang mansukh (sudah dihapus). Bahkan Ath Thohawiy menceritakan bahawa telah ada ijma' (kesepakatan ulama) untuk tidak beramal dengan hadits tersebut. Dan kebanyakan ulama memang tidak mengamalkan hadits tersebut.

Namun ada pendapat daripada Imam Asy Syafi'i dan ulama Syafi'iyah, juga hal ini selari dengan pendapat sebahagian ulama terkemudian daripada Hambali. Mereka mengatakan bahawa larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya'ban adalah bagi orang yang tidak memiliki kebiasaan berpuasa ketika itu. Jadi bagi yang memiliki kebiasaan berpuasa (seperti puasa Isnin-kamis) , boleh berpuasa ketika itu, menurut pendapat ini. (Lihat Lathoif Al Ma'arif, 244-245)

Puasa Satu atau Dua Hari Sebelum Ramadhan

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,


"Janganlah mendahulukan Ramadhan dengan sehari atau dua hari berpuasa kecuali jika seseorang memiliki kebiasaan berpuasa, maka berpuasalah. " (HR. Muslim no. 1082)


Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab rahimahullah, berpuasa di akhir bulan Sya'ban ada tiga model:

Pertama, jika berniat dalam rangka berhati-hati dalam perhitungan puasa Ramadhan sehingga dia berpuasa terlebih dahulu, maka seperti ini jelas terlarang.

Kedua, jika berniat untuk berpuasa nadzar atau mengqadha puasa Ramadhan yang belum dikerjakan, atau membayar kafarah (tebusan), maka kebanyakan ulama membolehkannya.

Ketiga, jika berniat berpuasa sunnah semata, maka ulama yang mengatakan mesti ada pemisah antara puasa Sya'ban dan Ramadhan melarang hal ini walaupun itu menyamai kebiasaan dia berpuasa, di antaranya adalah Al Hasan Al Bashri. Namun yang tepat dilihat apakah puasa tersebut adalah puasa yang biasa dia lakukan ataukah tidak sebagaimana makna tekstual dari hadits. Jadi jika satu atau dua hari sebelum Ramadhan adalah kebiasaan dia berpuasa –seperti puasa Isnin-Kamis- , maka itu dibolehkan. Namun jika tidak, itulah yang terlarang. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Asy Syafi'i, Imam Ahmad dan Al Auza'i. (Lihat Lathoif Al Ma'arif, 257-258)


Kenapa ada larangan mendahulukan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan?

Pertama, jika berpuasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan adalah dalam rangka hati-hati, maka hal ini terlarang agar tidak menambah hari berpuasa Ramadhan yang tidak dituntut.

Kedua, agar memisahkan antara puasa wajib dan puasa sunnah. Dan memisahkan antara amalan yang wajib dan sunnah adalah sesuatu yang disyariatkan. Sebagaimana Nabi shallallahu `alaihi wa sallam melarang menyambungkan shalat wajib dengan shalat sunnah tanpa diselangi dengan salam atau dzikir terlebih dahulu. (Lihat Lathoif Al Ma'arif, 258-259)

Beberapa Hadits Lemah (Dha'if) dan Palsu (Maudhu') di Bulan Sya'ban





[Hadits Pertama]



"Sesungguhnya Allah Ta'ala turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya'ban, Dia akan mengampuni dosa walaupun itu lebih banyak daripada jumlah bulu yang ada di kambing Bani Kalb." [Bani Kalb adalah salah satu kabilah di Arab yang mempunyai banyak kambing]

Hadits ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Ibnu Majah. At Tirmidzi mengatakan bahawa beliau mendengar Muhammad (iaitu Imam Bukhari) mendhoifkan hadits ini. (Lihat As Silsilah Ash Shohihah, no. 1144)





[Hadits Kedua]


"Apabila datang malam nishfu sya'ban, maka hidupkanlah malam tersebut dan berpuasalah di siang harinya. Ini kerana ketika itu, Allah turun ke langit dunia pada malam tersebut mulai dari tenggelamnya matahari. Allah Ta'ala berfirman (yang ertinya), "Siapa sahaja yang meminta ampunan, Aku akan mengampuninya. Siapa saja yang meminta rezeki, aku pun akan memberinya. Siapa saja yang tertimpa kesulitan, Aku pun akan membebaskannya. Siapa pun yang meminta sesuatu, Aku akan mengabulkannya hingga terbit fajar"."

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Sanad hadits ini adalah lemah, bahkan menurut Syeikh Al Albani adalah maudhu' (palsu) kerana di dalamnya terdapat perawi yang bernama Ibnu Abi Sabroh yang tertuduh sering memalsukan hadits sebagaimana dikatakan dalam At Taqrib. Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Ma'in juga berpendapat demikian iaitu Ibnu Abi Basroh sering memalsukan hadits. Sehingga Syeikh Al Albani berkesimpulan bahawa sanad hadits ini maudhu' (palsu). (Lihat As Silsilah Adh Dha'ifah, no. 2132)



[Hadits Ketiga]


"Rajab adalah syahrullah (bulan Allah), Sya'ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku."

Dalam Al Jami' Ash Shogir (6839), Syeikh Al Albani mengatakan bahawa hadits ini dha'if
.



[Hadits Keempat]


"Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam Nishfu Sya'ban sebanyak 12 raka'at, setiap raka'atnya membaca surat "Qul huwallahu ahad" sebanyak tiga kali, maka dia tidaklah akan keluar sampai dia melihat tempat duduknya di syurga …"

Hadits ini dibawakan oleh Ibnul Jauziy dalam Al Maudhu'at (kumpulan hadits-hadits palsu). Ibnul Jauziy mengatakan bahawa hadits di atas adalah hadits maudhu' (palsu) dan di dalamnya banyak perawi yang majhul (tidak dikenal). (Lihat Al Maudhu'at, 2/129)

Demikian perbahasan kami mengenai panduan amalan di bulan Sya'ban. Semoga apa yang kami suguhkan ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Semoga Allah selalu memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, rezeki yang thayib dan amalan yang diterima. Alhamdulillahilladz i bi ni'matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa `ala alihi wa shohbihi wa sallam
.

Diselesaikan di Panggang, Gunung Kidul, 29 Rajab 1430 H

Sumber:

http://muslim. or.id/fiqh- dan-muamalah/ serba-serbi- bulan-syaban- 01.html

http://muslim. or.id/fiqh- dan-muamalah/ serba-serbi- bulan-syaban- 02.htm




Reaksi:

0 pandangan sahabat-sahabat: